IMUNISASI BCG PANAS ATAU TIDAK

image:hellosehat.com
Saat ini, sudah banyak orang tua yang paham pentingnya imunisasi. Hanya saja mungkin ada sebagian yang kurang ikhlas menerima jika anaknya panas pasca suntik imunisasi.

Untungnya tidak semua imunisasi berefekikutan panas atau demam. Umumnya hanya DPT, alias imunisasi difteri, pertusis dan tetanus.

Bagaimana dengan imunisasi BCG? Apakah imunisasi BCG panas atau tidak?

Imunisasi BCG yang bertujuan untuk mencegah penyakit TBC yang mematikan itu biasanya tidak menyebabkan anak panas atau demam. Pasca imunisasi, tubuh anak biasa-biasa saja. Tak naik suhunya.

Tapi tunggu ...

BCG bukannya tanpa efek samping. Pada bekas suntikan dalam beberapa hari akan muncul luka dan kadang-kadang bernanah. Biarkan saja. Tak lama kemudian akan sembuh dan meninggalkan bekas.
Lain halnya, jika luka kecil tersebut menjadi parah, bengkak hebat, anak demam dan rewel, serta nanah semakin banyak. Itu artinya ada infeksi sekunder alias infeksi tumpangan. Kalo seperti ini segera berobat ke dokter. Biasanya butuh antibiotik untuk membunuh bakteri oportunis yang memanfaatkan situasi.

Sebagai tambahan, imunisasi BCG hanya butuh sekali suntikan. Saat usia anak baru lahir hingga satu bulan. Oleh karena itu, imunisasi ini dinobatkan sebagai imunisasi perdana, berbarengan dengan imunisasi hepatitis B.

Kalau kelewatan, misal usia anak sudah tiga bulan tapi belum diimunisasi, perlu langkah tambahan. Sebelum mendapatkan suntikan BCG di lengannya, anak mesti menjalani Tes Mantoux. Jika negatif boleh imunisasi. Jika positif, berarti ada kemungkinan anak sudah terinfeksi bakteri TBC. Segera konsultasi.

OBAT PEMBUNUH JENTIK NYAMUK DI BAK MANDI

Tentunya ada perasaan jijik ketika kita menemukan jentik nyamuk di bak mandi. Jentik yang bentuknya cukup seram itu, meletik-letik ke sana kemari. Barangkali si jentik tak hanya menari-nari tapi juga buang air kecil atau besar :)

Kalau jumlahnya sedikit, mungkin tak berefek. Bagaimana kalau ratusan atau ribuan?
Bagaimana mengatasinya?

Cara pertama yang paling bagus adalah mencegah. Mencegah jentik masuk dan berkembang biak di bak mandi. Kuncinya, tutup bak mandi. Kalau ini sulit, isolasi kamar mandi. Segenap ventilasi kamar mandi ditutup dengan kasa nyamuk, dan ketika meninggalkan kamar mandi, usahakan pintu selalu tertutup.

Cara kedua, kuras bak mandi secara teratur. Paling bagus jika dua atau tiga hari sekali. Jangan menguras sekali seminggu atau lebih jarang, karena jentik keburu gede dan bahkan siap menjelma menjadi nyamuk dewasa.

Cara ketiga, gunakan bubuk abate. Cara ini hendaknya merupakan pilihan terakhir jika dua cara di atas tidak bisa dilakukan atau tak jua mempan.

Abate, Obat Pembunuh Jentik Nyamuk di Bak Mandi

Sesaset kecil bubuk abate dimasukkan ke plastik obat, lalu plastik ditusuk-tusuk dengan peniti, kemudian dibenamkan ke dalam bak mandi. Ada juga yang menyarankan untuk menaburkan obat pembunuh jentik ini di air yang dekat dinding bak.

Bagaimana nasib abate selanjutnya?

Setelah masuk ke dalam bak, abate akan nempel di dinding bak. Alhasil, ketika jentik bersentuhan dengan dinding tersebut, si jentik akan tewas. Analoginya seperti semut yang berjalan di atas garis kapur ajaib. Akan mati.

Keampuhan abate membunuh jentik bisa bertahan 2-3 bulan, selama dinding bak tidak disikat. Jika dinding digosok atau disikat, maka abate yang menempel akan hilang dan jentik akan hidup leluasa lagi.

MENGAPA SEMINGGU SEKALI?

Mungkin ada yang penasaran lalu bertanya, mengapa menguras bak penampungan air dianjurkan sekali seminggu. Mengapa tidak lebih sering yaitu dua kali seminggu, atau sebaliknya lebih jarang: dua minggu sekali?

Menguras adalah pilar pertama Gerakan 3M Plus. Pilar kedua, menutup tempat penampungan air. Pilar ketiga, mendaur ulang sampah yang dapat menampung air seperti kaleng bekas, botol bekas dan sejenisnya.

Sedangkan ‘plus’ bisa banyak dan beragam. Mulai dari menabur bubuk abate ke tempat penampungan air yang sulit dikuras, menggunakan obat anti nyamuk atau lotion anti nyamuk, sampai dengan menggunakan kelambu ketika tidur. Plus yang terakhir terutama bagi mereka yang suka tidur di pagi atau sore hari. Aedes hanya doyan berburu mangsa di pagi dan sore hari.

Biang kerok penyakit demam berdarah adalah virus dengue. Virus ini mampu memperalat sel tubuh nyamuk aedes untuk memproduksi jutaan copy virus. Nyamuk yang mempunyai kebiasaan terbang kesana kemari menggigit orang-orang, tidak hanya satu orang, tanpa sadar sambil mengisap darah juga menyebarkan virus dengue hasil fotocopy.

Setelah jumlah darah yang diisap cukup, nyamuk aedes segera mencari genangan air. Beda dengan saudaranya yang doyan bertelur di air kotor, aedes menyukai genangan air bersih. Dimana saja, yang penting air bersih. Kadang-kadang di penampungan air luapan dispenser, di vas bunga, atau di gelas air mineral yg dibuang sembarangan.

Tak butuh sembilan bulan, hanya 10 - 12 hari. Telur yang diletakkan di permukaan air bersih akan menetas menjadi larva, lalu menjadi nyamuk dewasa.

Jika air yang ada telurnya, atau ada larvanya dikuras dalam waktu kurang dari 10 hari, niscaya telur atau pupa akan tewas sebelum berkembang menjadi nyamuk.

Inilah dasar pemikiran menguras seminggu sekali. Kenapa diambil angka 7? Selain mudah diingat, juga waktu yang ideal untuk memutus daur hidup nyamuk. Tak terlalu pendek, pun tak terlalu panjang.

Tapi perlu diingat, bahwa perilaku menguras tak hanya boleh satu kali. Perlu rutin. Kenapa? Akan ada aedes betina lain yang siap sedia meletakkan telurnya ke penampungan air yang baru saja dikuras.