Kamis, 27 April 2017

Ciri Kanker Serviks Stadium 4-nya Jupe

Diagnosis dokter yang merawat Jupe menyebutkan sang artis terkena kanker serviks stadium IV.

Saya menulis stadiumnya dengan angka Romawi, sesuai dengan kesepakatan kalangan medis. Awak media umumnya menulisnya sebagai Stadium 4. Mungkin agar lebih nyaman dilihat.

Barangkali ada diantara Pembaca bertanya, apa makna Stadium IV?

Kanker serviks ada beberapa tingkatan, terendah Stadium 0 dan tertinggi Stadium IV. Tak ada lagi stadium sesudahnya sehingga kanker serviks stadium IV didaulat sebagai stadium akhir, sekaligus terparah.

Ciri utama kanker serviks Stadium IV adalah "penyebaran sel kanker sudah ke luar serviks". Jika penyebaran 'hanya' ke organ sekitar serviks seperti usus besar atau kandung kencing, disebut golongan IVa. Tapi jika sudah melanglang buana ke tempat jauh misalnya paru-paru atau ginjal, dimasukkan ke golongan IVb.

Sel kanker tak hanya menyebar, tapi juga mendirikan koloni di tempat baru, koloni yang jahat. Koloni ini akan mendesak sel lokal, bahkan membuatnya mati.

Apa yang terjadi kemudian?

Organ yang tersusun oleh sel lokal akan rusak parah dan kehilangan fungsinya.

Jika usus besar rusak, terjadi gangguan BAB; jika paru-paru rusak terjadi gangguan pernapasan; dan jika ginjal rusak terjadi penumpukan sampah metabolisme di dalam tubuh. Untuk kasus terakhir ini butuh cuci darah. Persis yang dialami oleh Mbak Jupe.

Satu lagi, jika serabut saraf tertekan atau teriritasi oleh sel kanker yang terus membanyak tak terkendali, timbul nyeri yang amat sangat. Kadang-kadang untuk menghilangkan nyeri, saraf perlu dipotong.

Akibat adanya penyebaran, penanganan kanker serviks stadium IV menjadi lebih sulit. Pengobatan biasanya berupa kemoterapi dengan suntikan obat antikanker, radioterapi dengan sinar X, dan pembedahan untuk mengangkat organ yang terkena.

Jenis pengobatan yang dipilih sangat tergantung kondisi masing-masing pasien. Kadang-kadang ketiganya dikombinasikan.

Seringkali walaupun pengobatan sudah dilakukan maksimal dan menelan biaya milyaran, kesembuhan tak juga di dapat.

Kenapa demikian?

Selalu saja ada sel kanker yang lolos dari upaya pembasmian dan kemudian membentuk koloni baru.

Pada kebanyakan kasus kanker stadium IV, sel kanker pada akhirnya memenangkan pertarungan.

Cara terbaik menghadapi kanker serviks adalah menemukan sel jahat tersebut ketika masih kecambah. Ketika masih belum mempunyai kekuatan.

Bagaimana caranya?

Dengan pemeriksaan Pap Smear atau IVA.

Jika cikal bakal sel kanker ketahuan saat masih orok, mengenyahkannya cukup dengan mendinginkannya menggunakan nitrogen cair. Dengan demikian, ia tak akan sempat berkembang menjadi balatentara ganas yang sangat sulit dilawan.

Jadi, jika baru ditemukan di Stadium IV sudah sangat terlambat dong?

Betul sekali ...

Selasa, 25 April 2017

Sakit Maag Gegara Jamu

Saya sering menjumpai pasien yang mengeluh nyeri lambung alias maag. Usut punya usut, biang keladinya adalah jamu.

Rata-rata mereka mengaku beberapa hari sebelumnya mengkonsumsi jamu sasetan.

Jika ditelisik lebih dalam, yang mereka minum bukanlah jamu beneran, tapi jamu oplosan.

Jamu yang sudah dioplos dengan obat nyeri, obat radang, dan atau obat alergi. Disini, beras kencur atau kunyit hanya sebagai penyamar.

Karena sudah bercampur dengan obat kimia, maka efeknya pun dahsyat. Pegel linu hilang secara ajaib , tubuh terasa sangat nyaman, dan nafsu makan meningkat.

Tapi tak berapa lama kemudian, efek samping pun mendera. Efek jangka pendek, dinding lambung terkikis. Sedangkan jangka panjang, gangguan ginjal, hipertensi, diabetes, dan berbagai macam penyakit lainnya.

Oleh karena itu, minum jamu oplosan yang ga jelas merk dan asal usulnya seperti kata pepatah, "berenang-renang kehulu, berakit-berakit ketepian; tubuh nyaman dahulu, muncul efek samping kemudian".

Bagaimana jika terlanjur?

Langkah pertama, hentikan penggunaan jamu oplosan. Langkah kedua, minum obat penetral asam lambung semisal promag, mylanta, dan sebagainya. Boleh tablet, boleh cair.

Jika masih belum sembuh, sebaiknya periksakan diri ke dokter.  Mungkin dokter akan memberikan obat yang menghambat produksi asam lambung semisal ranitidin atau omeprazol. Jika nyerinya cukup hebat, sekalian diberi antinyeri.

Yang agak repot kalo dinding lambung bocor. Untuk   kasus seperti ini perlu penanganan khusus dan lebih serius.

Sebenarnya kalo dipikir-pikir, jamu oplosan lebih banyak bahayanya ketimbang keuntungannya.

Jadi, mending jangan deh.

Berbagi Ilmu itu Berpahala

Kata ustaz, berbagi ilmu itu berpahala, sekalipun itu ilmu dunia.

Contohnya, menulis artikel kesehatan di blog :)

Tentu saja syarat utamnya harus dipenuhi, yaitu karena Allah semata.

Bagaimana jika menulis ada niat sampingannya, misalnya pengen terkenal atau pengen dapat income? Apakah masih mendapat pahala?

Untuk kasus terakhir ini saya tidak tahu jawabannya.

Tapi apapun niatnya, silakan para Pembaca menikmati artikel kami di BlogDokter.id