Kamis, 29 Juni 2017

SINDROM BRUGADA

Penyakit ini terdengar asing, tapi benar-benar ada di sekitar kita. Salah satu kasus yang menyita perhatian adalah kematian dokter ahli bius di sebuah rumah sakit di Jakarta, yang sebelumnya diduga karena kelelahan bekerja ternyata akibat dari Sindrom Brugada (Brugada Syndrome).

Penyakit Brugada pertama kali dijelaskan oleh Brugada bersaudara (Pedro Brugada dan Josep Brugada) pada 1992. Dua orang ahli medis dari Spanyol.

Ciri utama penyakit ini adalah gangguan irama jantung. Jantung berdetak lebih sering, tapi tanpa tenaga. Saking seringnya detakan tersebut, jantung terlihat seperti gemetar. Dalam dunia medis, fenomena ini disebut fibrilasi.

Sayangnya, karena tenaga tak ada maka darah tak mengalir lancar. Kondisi inilah yang menyebabkan kematian.

Serangan sindrom Brugada lazim terjadi saat tidur. Pencetusnya macam-macam, bisa demam, kelelahan, makanan, obat-obatan dan sebagainya. Tapi ini hanya pencetus. Penyebab dasarnya adalah kelainan genetik pada jantung yang diturunkan dari orang tua.

Sindrom Brugada sering tidak disadari bahkan oleh penderita sendiri. Jarangnya muncul gejala dan gejala yang tidak khas yang menjadi alasannya. Oleh karena itu, angka kejadian penyakit brugada sampai saat ini tidak diketahui pasti.

Cara menghadapi sindrom ini adalah menghindari pencetus dan menanam alat pencegah fibrilasi langsung ke dalam jantung. Untuk ukuran Indonesia, barangkali alat semacam ini belum tersedia di rumah-rumah sakit.

Semoga dengan adanya kejadian yang memprihatinkan di atas, Sindrom Brugada lebih mendapat perhatian, termasuk kesiapan penanganannya.